Campuran Semen Merah dan Gamping akan Membuat Rumah Lebih Cepat Berlumut

Pada artikel sebelumnya, saya telah menjelaskan tentang penggunaan semen merah dan juga gamping, sebagai perekat bangunan pengganti semen, yang teknologinya merupakan peninggalan dari Bangsa Belanda. Tetapi meskipun sudah berusia ratusan tahun, tetapi teknologi penggunaan campuran semen merah dan juga gamping, masih sering digunakan pada bangunan rumah tinggal yang ada di sekitar rumah tinggal saya.


Meskipun saat ini jumlah orang yang mengaplikasikan teknologi ini sudah semakin sedikit, tetapi masih ada saja orang yang menggunakannya. Salah satu keuntungan yang banyak dikemukakan oleh orang-orang yang menggunakan teknologi ini adalah karena faktor biayanya yang lebih murah, jika dibandingkan dengan menggunakan semen yang diproduksi oleh pabrik.

Karena untuk batu bata merah yang dihaluskan untuk dibuat semen merah, kebanyakan berasal dari bongkaran rumah milik orang lain, dan untuk mendapatkan batu bata merah hasil bongkaran ini, biasanya didapatkan dengan gratis. Dan kebanyakan biaya yang dikeluarkan hanya untuk transportasinya dan biaya untuk menghaluskan batu batanya saja. Karena faktor dari harga yang lebih murah itulah, maka sebagian orang tetap menggunakannya sebagai perekat bangunan.

Hanya saja jangan pernah berfikir karena teknologi yang digunakan adalah milik Belanda, maka bangunan yang dihasilkan juga akan sama baiknya seperti yang dikerjakan oleh Bangsa Belanda. Karena pada kenyataanya, karena menggunakan material yang terkesan seadanya, dan dikerjakan dengan asal-asalan, maka kualitas bangunan yang dihasilkan, juga akan menjadi seadanya, dan asal jadi saja.

Salah satu efek dari bangunan di sekitar rumah saya, yang menerapkan teknologi perekat ini, yaitu rumah tersebut, akan terlihat lebih rapuh. Dan setelah bertahun-tahun digunakan maka tingkat kerapuhan dari rumah tersebut dapat dideteksi dari adanya lumut. Biasanya lumut tersebut akan muncul pada daerah yang sangat lembab, dan biasanya dimulai dari bawah dinding, yaitu berasal dari rembesar air yang berasal dari bawah tanah, yang kemudian akan menyebar ke seluruh bagian dinding tersebut.

Biasanya setelah lumut di dinding tersebut cukup banyak jumlahnya, maka dinding akan mejadi seperti pasir yang tidak diberi perekat, dan akan rontok begitu saja (meskipun tidak ada yang menyentuhnya) dan kemudian jika tetap tidak mendapat perhatian untuk segera dilakukan renovasi, maka jangan heran jika bangunan seperti ini, akan sangat rawan untuk roboh.


Karena kebanyakan rumah di sekitar saya, dibangun dengan menggunakan sistem dinding penumpu, tanpa ada sloof, kolom dan balok praktis yang membantu, mengalirkan beban. Tetapi meskipun menggunakan sistem dinding penumpu, tetapi ketebalan dindingnya rata-rata hanya setengah bata, sehinnga kekuatannya sangat kurang, bahkan jika sampai terjadi gempa bumi, maka tidak heran jika ada banyak rumah yang mengalami kerusakan parah.

Tinggalkan Balasan