Bangunan dengan Gaya Modern tidak cocok Digunakan di Indonesia

Beberapa waktu ini, sebagian model bangunan di Indonesia, mulai mengadopsi berbagai gaya populer di dunia. Meskipun sebagian besar gaya tersebut dikembangkan oleh daerah yang memiliki iklim subtropis, tetapi sebagian besar masyarakat kita tetap memasukkan unsur tersebut begitu saja ke bangunan miliknya.


Karena itu wajar saja, jika saat ini banyak bangunan yang masih baru, tetapi sudah mengalami kerusakan yang parah. Bagaimanapun juga, saya harus mengakui, bahwa bangunan-bangunan baru tersebut memiliki bentuk, warna, dan model yang menarik.

Tetapi saya sudah yakin bahwa bagunan tersebut tidak akan bisa bertahan lama di daerah tropis seperti Indonesia, karena memang iklim daerah pengembangan bangunan dan pembangunannya sangat berbeda.

Sebagai contoh saja, yaitu di daerah sekitar rumah saya, ada satu baris ruko (rumah toko), yang dibangun kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Pada saat itu bangunan yang menggunakan model minimalis sangat laku, sehingga mereka menggunakan model minimalis versi mereka, pada bangunan ruko tersebut.

Pada saat ruko tersebut dibangun, saya rasa pemiliknya tidak sadar, bahwa kerusakan bangunan akibat gaya bangunan seperti ini bisa cukup banyak menguras kantong. Bagi penjualnya, mereka tidak akan peduli, karena yang terpenting bagi mereka, ruko yang mereka bangun tersebut laku.

Kerusakan yang paling umum dan yang sering terjadi adalah pudarnya cat pada dinding luar bangunan. Hal ini dikarenakan pada bangunan minimalis yang ada di Indonesia, dinding bangunan akan langsung berhadapan dengan sinar matahari dan hujan. Dan hampir semua dinding tersebut tidak diberi peneduh atau atap pelindung.

Jadi, meskipun sudah menggunakan cat anti air (waterproof), tetapi sepertinya hal tersebut tidak berpengaruh, karena di beberapa daerah, ternyata curah hujannya jauh lebih lebat dari pada yang dapat ditahan oleh cat tersebut.

Selain itu biasanya daerah lainnya memiliki sengatan sinar matahari yang sangat panas. Belum lagi, jika harus ditambah dengan masalah polusi udara, seperti yang terjadi pada ruko yang saya ceritakan di atas.

Karena itu setiap dua sampai tiga tahun sekali ruko yang saya ceritakan tersebut harus mengecat ulang dinding luarnya. Hal tersebut sepertinya tidak masalah ketika pembeli yang datang ke ruko tersebut masih banyak. Tetapi saat pembeli yang datang sudah mulai sepi seperti sekarang ini, maka proses pengecatan menjadi sesuatu hal yang mahal, dan sulit dilakukan.

Sehingga yang terjadi sekarang, bahwa dinding luar ruko tersebut menjadi terkelupas, warnanya pudar, kusam, dan sudah tidak menarik lagi.

Sebagai saran saja, yaitu anda boleh saja mengadopsi model bangunan yang sedang trend saat ini. Tetapi anda juga harus tahu, bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan agar model bangunan tersebut, dapat cocok dengan lingkungan tempat tinggal kita.


Menurut saya pribadi, bahwa bangunan tradisional daerah tersebut, adalah bentuk bangunan yang paling cocok dan paling sempurna untuk daerah setempat. Hal ini dikarenakan bangunan tersebut sudah mengalami proses pembangunan, renovasi, perbaikan, selama beribu-ribu tahun. Sehingga bentuk yang kita kenal sekarang adalah bentuk yang paling sempurna dari proses pencarian yang sangat lama.

Tinggalkan Balasan